Tanggal empat November 2009 kemarin, anak perempuan saya dan saya menerima sebuah undangan resmi dari seorang sahabat keluarga untuk menghadiri Pembacaan Pidato dan Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pamannya di salah satu Universitas Negeri terkemuka di Jogja.
Anak saya berdua saya berniat dan merencanakan dengan baik untuk datang memenuhi undangan tersebut, empat puluh lima menit sebelum acara dimulai kami berdua sudah duduk manis di Ruang Balai Senat universitas tersebut.
Tamu-tamu berpakaian sipil resmi datang satu demi satu, rombongan demi rombongan juga datang dan kursi-kursi di ruangan tersebut semakin terisi.
Tepat jam sembilan lebih empat puluh lima menit atau lima belas menit sebelum acara dimulai, pintu masuk untuk para tamu sudah ditutup, dan tamu-tamu yang datang terlambat harus masuk lewat pintu di bagian belakang.
Tepat jam sepuluh acara dimulai , dengan diawali segala upacara singkatnya. Pembacaan pidato yang berlangsung selama lebih kurang satu jam atau enam puluh menit tersebut kami simak dengan baik, karena isinya memang berbobot, dan disampaikan dengan cara yang baik dan menarik.
Saya menyempatkan diri untuk menengok kebelakang, kekiri dan kekanan, memperhatikan sikap para tamu yang rata-rata adalah sangat menikmati dan menyimak baik-baik apa yang dibacakan oleh Sang Guru Besar tersebut, yaitu Prof.Dr. Stephanus Djawanai, M.A.
Kami berdua duduk di sisi sebelah kanan, dan kebanyakan yang duduk di sisi tersebut adalah sanak keluarga.
Banyak orang terpelajar yang datang (karena dari topik yang dibicarakan diantara mereka), saya menyimpulkan bahwa banyak diantara mereka adalah orang-orang akademik, yang paham tentang hal-hal yang berkaitan dengan acara-acara seperti pagi hari tersebut. Tapi saya sangat kecewa karena sepasang suami-isteri yang duduk persis disebelah saya asik bercerita sendiri sepanjang pembacaan pidato tersebut, dan dengan suara yang tidak pelan pula, mau saya tegur, kok nanti sayanya lancang, nggak saya tegur, saya merasa amat sangat terganggu, tapi ya…., gimana ya……?, bukantah seharusnya mereka lebih paham dengan tatacara acara-acara resmi seperti itu?
Alamaaaak,


