Setelah berjalan-jalan ke blog tetangga dan membaca sebuah tulisan tentang membuat rumah, saya jadi ingat pengalaman pribadi saya, begini ceritanya,
Waktu saya sudah memutuskan untuk pindah dari surabaya dan akan membuat rumah sendiri di Jogja, dimulailah petualangan saya . . . . ,
Sambil menunggu rumah kami di surabaya laku, waktu saya membuka-buka lemari ajaib saya, saya menemukan sebuah sisa buku milimeter, setiap hari saya menggambar design calon rumah saya, dengan macam-macam model, SETIAP HARI, sampai saya diejek-ejek : kapan mbangunnya, kok nggambaaaar aja. Ya saya jawab aja, gambarnya dulu, wong rumahnya belum laku kok!
Saya hanya lulusan sekolah menengah atas, nggak punya latar belakang arsitek sama sekali, babar blassh, modal saya cuman buku milimeter, dan dari seluruh proses menggambar rumah idaman saya, saya menghabiskan 5 buku milimeter. Rata-rata gambarnya pasti berubah, karena saya selalu menggambar ulang rumah idaman saya, dengan model yang berbeda, dan luas tanah yang berbeda juga, dari 250 m2, karena setelah saya tahu harga pasaran tanah (saat itu) berapa, luas lahan calon rumah saya makin menciut . Saya menggambar macam-macam bentuk design dan layout dalam dan luar, jendelanya berapa, ukurannya berapa, pintunya berapa, ukurannya berapa, luas kamarnya berapa, pintunya menghadap mana, jendelanya menghadap mana, bukaan samping atau atas atau bawah, atau digeser, wah pokoknya macam-macam bentuk.
Akhir dari petualangan saya, (saya sebut petualangan saya karena saya mendapatkan sensasi tersendiri pada saat-saat menggambar itu) luas lahan mentok di 180 m2, bangunan 2 lantai. Di bawah dengan 6 kamar tidur, 2 kamar mandi-WC, dapur, sepetak tanah terbuka untuk jemur-jemur, di tengah ada space untuk lalu-lintas antar kamar, yang kalau malam untuk tempat motor-motor. Di depan ada teras semi tertutup, dengan 2 bangku panjang.
Di atas ada 3 kamar tidur, 1 kamar mandi-WC, 1 dapur, space di tengah , teras kecil di depan dan space lumayan luas di belakang untuk jemur-jemur bisa juga untuk duduk-duduk kalau mau.
Tangga ada di depan dan di belakang, halaman depan untuk berkebun lumayan, saya punya pohon cemara yang tingginya melewati atap rumah saya, dan tanaman bunga-bungaan lain (tidak termasuk bunga bank lho) dan carport yang bukan untuk mobil. Dilihat dari gambarnya, temen saya yang arsitek aja kagum, apalagi saya .
Semua memuji-muji hasil gambar design saya (setelah wujudnya berbentuk bangunan tentu saja) secara saya awam begitu, dan mereka lebih takjub lagi ketika tau saya nggak sekolah arsitek.
Mestinya saya juga bangga atas hasil karya saya, tapi sayang, rumah saya dikerjakan oleh sekelompok manusia dengan cara yang kurang manusiawi, jadi ya . . . Ahh, sudahlah, yang penting. . .
home sweet home!