otak beku,

Seperti yang sudah saya ceritakan di awal blog saya, saya bisa naik motor ya baru belakangan ini aja.

Setiap pagi (mostly) saya mengantar anak saya ke tempat bekerjanya, ya nggak terlalu jauh sih , paling-paling cuman butuh waktu pulang-pergi sekitar 20 minuts.

Awalnya, anak saya itu naik sepeda, tapi karena pekerjaannya membuat energynya menguap dengan cepat, saya menawarkan diri untuk jadi tukang ojeknya, anak saya sebetulnya sangat merasa nggak nyaman, tapi setelah saya meyakinkan dirinya bahwa saya okay-okay aja, akhirnya dia mau juga.

Yang heboh malah teman-teman kerjanya, mereka bilang, aduh miss, kok masih diantar mamanya ? anak saya sih cuman senyum-senyum aja, sama juga dengan tetangga saya yang berkomentar ‘ wah sudah besar kok masih di antar ibunya? saya juga cuman senyum-senyum aja.

Pada suatu kesempatan kami sama-sama mempunyai kesempatan untuk memberikan penjelasan.

Saya jelaskan  kepada tetangga saya itu, bahwa saya nganterin anak saya bukan karena apa, tapi motornya kan cuman satu, jadi ya saya yang nganterin dia ke tempat kerjanya terus, nanti kalau saya butuh pergi kesesuatu tempat saya ada kaki.

Lain lagi penjelasan anak saya kepada teman-temannya, kata anak saya ‘ kalian nyadar nggak sih kondisi lalu-lintas di Jogja tuh seperti apa? aku kalau di suruh bawa motor di jalan raya di Jogja ya sory aja, bukannya apa, tapi sayang nyawaku,  belum lagi makan atinya, wah bisa stress!, makanya aku memutuskan nggak akan belajar naik motor’.

Ya anda bayangkan saja, semua pengendara (apa aja) nggak ada yang mau ngalah, pada saling makai aturannya sendiri-sendiri, nggak mau memberi kesempatan kepada yang secara aturan lalu-lintas memang harus didahulukan, saya sendiri pertama sebel juga, kok sepertinya yang blo’on saya, tapi lama-lama ya kebal juga walau  saya  tetep aja memakai aturan lalu-lintas. Misalnya salah satu contoh, kalau saya memberi kesempatan kepada kendaraan lain yang akan memintas, dari belakang pada klakson-klakson terus dari sisi kiri saya melesat motor yang melaju, jadi bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi kan? Berkendaraan di Jogja memang rentan sress, ini serious !!

Tadi pagi tetangga saya yang lain nanya, ‘kok anaknya nggak mau naik motor sendiri?, saya jawab aja, oh anak saya masih membutuhkan otaknya untuk bekerja di tempat kerjanya, Maksudnya ?, ya , kalau nyetir di Jogja ini kan harus pakai otak beku, saking nggak ada aturannya, Tetangga saya cuman manggut-manggut sambil nampak berpikir keras.

2 Responses to “otak beku,”

  1. aduh tante….tante pindah ke surabaya lagi aja…trus kalo kerja saya nunut tante he he he

  2. ha ha ha , may kamu buat saya terhibur…:D

Leave a Reply