Tadi pagi saya mau beli roti tawar di salah satu gerai roti yang cukup terkenal dan lama eksis di Jogja, waktu mau bayar pakai uang lima puluh ribuan, mbak kasirnya langsung bilang: ‘ ada uang yang kecil nggak?, saya jawab ‘nggak ada, terus dia bilang ‘ ya gimana?, ngga ada kembaliannya (sambil menunjukkan tampang nggak simpatik, terus nunjuk ke mesin cash registernya) kan baru buka!. ‘ Ya udah, nggak jadi aja, jawab saya sambil ngloyor keluar. Ya ampun!!, emang salah saya kalau saya bayar pakai uang lima puluh ribuan, terus dia nggak ada kembaliannya? Bukankah (keiknya) semua penjual pada saat pertama buka jualan kan udah nyiapin uang pecahan untuk kembalian. Kalau dia ngerti etika berjualan ya mestinya usaha nukar ke officenya atau gimana gitu, kok sewot sama saya.
Seperti juga kalau saya lagi mengudap di sebuah resto atau kedai makan, terus pelayannya meletakkan piring makan atau gelas minum pesanan saya dengan kasar, bahkan sampai isinya berceceran, saya marah, langsung pelayannya (waktu itu waitress) saya suruh duduk di kursi tempat saya duduk juga, terus saya bilangin macam-macam, sampai anak-anak saya yang panik sendiri, sambil ngomong ‘ sudahlah ma, biarin aja!, bagi saya bukan’ biarin aja’nya, kalau mereka nggak diberi pengertian mereka akan tetap melakukan hal yang sama terhadap orang lain kan?
Atau pernah kami (saya dan kakak perempuan saya) mau makan disebuah cafe, disalah satu mall gaul di Surabaya, waktu kami masuk dan duduk di kursi pilihan kami, waitressnya datang menghampiri kami ‘melempar’ buku menunya, dan bertolak pinggang sambil bertanya ‘pesan apa! ‘ , langsung kami berdua muntab, saya tegur ‘ bisa dengan cara yang sopan nggak ?, ceweknya bengong aja, wong dia memang nggak mudeng apa yang salah?, terus saya menghampiri supervisornya sambil berkata, nggak jadi, pelayanmu ngga punya tata-krama!. Kami keluar sambil geleng-geleng kepala, terwonder-wonder . kok ada orang keik gitu di pekerjakan di bagian service.
Pernah juga kami masuk kesebuah restoran, disambut oleh seorang waitress sambil nanya mau pesan apa. Setelah kami memilih-milih menunya kami menyampaikan pilihan menu kami kewaitress tersebut. Nggak lama datang lagi seorang waiter yang lain sambil bawa nota pesanan dan ballpoint menghampiri kami terus bertanya, kami mau pesan apa. Langsung aja saya bilang ‘ tanya aja sama mbak itu’, sambil nunjuk waitress yang tadi
Saya jadi nggak abis pikir, mereka itu kelewat nggak acuh atau memang nggak punya tata-krama?, apa nggak diajarkan pada saat training, atau ownernya juga memang nggak punya manners?
Menurut saya, kalau sudah memutuskan mau bekerja di bagian service, pekarjaannya ya men-service pelanggan, ya bersikaplah sebagai ‘yang melayani‘ nggak sulit kan, bukankah itu sudah pilihan mereka?


bete?, main facebook aja atau nulis di blog
lotek jogja, enak,