tempel sana, tempel sini, nempel dimana-mana,
Dulu (lagi), waktu saya belum punya rumah kost, kalau berkunjung ke rumah teman yang rumahnya itu di buat tempat kost, atau kerumah lain yang juga untuk rumah kost, saya suka baca kertas-kertas tempelan di pintu atau tembok yang berisi bermacam-macam tulisan, misalnya harap sandal di lepas, tamu cowok dilarang masuk, jam malam sampai jam 22.00 atau, minggu tenang ada ujian jangan berisik, mesin motor matikan, atau pintu tutup kembali, jaga kebersihan dan macam-macam yang lain. Watu itu saya merasa lucu dan agak aneh karena menurut saya yang di tulis itu adalah hal-hal yang secara logika bisa dan biasa dilakukan tanpa harus ada peringatan, hal-hal yang sederhana.
Malahan ada di rumah seorang kawan yang ibunya menulisan berbagai peringatan dan perintah sehari-hari yang di tempel di seantero rumahnya, bahkan ada yang diselipin kata bijak dan kutipan-kutipan dari kitab suci. Saya sungguh merasa aneh dan lucu dan menjadi sangat konyol, ketika saya sendiri juga terpaksa harus berbuat hal yang sama (walaupun ngga se-ekstreem ibu kawan saya tadi) setelah saya punya rumah kost .
Ngomong atau berbicara langsung sekarang keiknya udah ngga mempan, apalagi kalau yang di ajak bicara anak muda, iya di mulut ngga iya di otak, kata anak saya, memang sekarang anak muda ya keik gitu, harus di bilangin ribuan kali ( haaaahhh?????)
Untuk satu hal yang sama saya harus bicara berulang-ulang kali, sampai saya jengah sendiri, mau diam aja nanti ada kasus, jadi ya terpaksa membuat tulisan-tulisan yang saya tempel di pintu masuk rumah. Pada suatu saat, pas lagi ngumpul bareng saya bilang :’ ‘aduh, saya sungguh merasa ngga enak kalau harus nempel-nempel tulisan, keiknya kita asing satu sama lain, tapi ya saya lebih ngga enak lagi kalau harus negur atau ngingetin bolak-balik, ‘ Saya jadi sungkan’
“Oooh ngga papa bu, santai aja” jawaban yang saya terima itu malah membuat saya sebel, karena ya iya lah, mereka santai aja, wong kata-kata saya di cu’ekin aja………
Sampai-sampai di rumah saya ada istilah SP1 dan SP2, saya punya blocknote yang ada list warna merahnya yang saya gunakan untuk SP1 dan akan saya tulisin dengan tinta merah untuk SP2 dan kemudian saya tempelin di pintu kamar anak yang bersangkutan. (ini untuk hal-hal yang udah kebangeten) Rese???, mungkin!!, tapi saya yakin itu semua akan berguna untuk mereka kelak.
tadi iseng-iseng saya hitung-hitung, di pintu rumah kost saya ada 11(sebelas) tempelan kertas berisi tulisa saya, ya ampun!, saya jadi malu sendiri