Jaman sekarang dimana semua sudah serba instant atau paling tidak setengah instant, hidup makin dipermudah, bukan hanya oleh majunya technologi, tetapi life style atau gaya hiduppun juga makin mempermudah kehidupan masa kini. Mulai dari baju dalam disposible, kopi ThreeInOne, sampai ke gadget, bahkan mungkin sampai ke jalan pikiran manusia jaman sekarang, sehingga terkesan aneh dan ngga jelas. Contohnya saja:
Yang saya banyak jumpai atau lihat di tempat-tempat umum sekarang ini banyaknya anak muda (mostly perempuan) yang makan di tempat makan umum dengan menyisakan sebagian besar porsi makan yang dipesannya, entah karena takut gemuk, atau masakannya ngga enak, porsinya kebanyakan atau porsi besar, atau merasa malu untuk menghabiskan porsi makan yang segede gambreng, takut nanti disangka rakus, atau yang bersangkutan memang mempunyai kebiasaan buruk, yaitu kalau makan memang selalu ngga habis.
Di detik ini , jam ini, hari ini, bulan ini, tahun ini….. semua orang juga sudah paham akan keadaan pangan dunia, khususnya dunia ke tiga. Anda boleh bilang topik saya basi, tapi ini kondisi yang makin lama makin parah, artinya: harus mendapat perhatian serius.
Banyak negara yang minus pangan bahkan sampai penduduknya kena HO, hidupnya hanya menunggu belas kasihan pemberian orang lain hanya untuk makan, belum untuk kebutuhan yang lain. Ironis sekali kalau di Indonesia banyak anak muda masa kini yang sering bahkan cenderung selalu tidak menghabiskan sisa makanan di piringnya.
Tidakkah mereka tahu akan kondisi pangan dunia saat ini? tidakkah mereka malu untuk menyisakan sebagian besar makanan di piring mereka sementara di belahan dunia lain bamyak orang yang hampir mati bahkan mati kelaparan?
Salah satu contohnya, setelah berkali-kali saya menemui kasus yang sama dan saya ngga tahan untuk diam saja,
Kemarin ketika saya makan disebuah resto Korea meja disebelah saya adalah pasangan muda bule dan cewek lokal, yang bule makan dengan lahapnya tanpa meninggalkan setitik noda sisa makananpun diatas piringnya. sementara yang cewek menuangkan saus sambel dan saus tomat banyak-banyak keatas makanannya dan hanya mengutak-atik tanpa memasukkan kemulutnya barang sesuappun, jujur aja ! mulut saya udah gatel pengen komen dan anak perempuan saya yang melihat gelagat tak enak ini segera mengingatkan saya dengan sebuah kalimat : ‘mind your own bisnis Mom!” dan saya hanya bisa geleng-geleng kepala, mau dibawa kemana cara hidup anak muda sekarang ini?
Kalau merasa masih kenyang ya ngga usah pesan makanan, kalau ngga suka menunya ya pesan minum aja, kalau merasa porsinya kebesaran, ya pesan ‘kids meal’ aja, atau kalau takut gemuk ya ngga usah pesan makan aja sekalian, pesan aja segelas air putih.
Mungkin juga batasan antara ‘cara hidup’, gaya hidup, ‘trend’ atau kebiasaan buruk hanya berbatas ‘ sebuah garis imeginair ‘.
Dan satu hal lagi yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita (boleh dibaca sebagai ‘saya’ bagi yang merasa) bagaimana perasaan pemilik restonya, atau kokinya, mereka pasti akan menduga-duga, apakah masakan yang disajikan di resto saya sebegitu tidak enaknya, sampai hanya dibuat main2 pake sendok?
Satu hal yang saya syukuri, saya sejak dulu selalu dengan tegas mengajarkan kepada anak-anak saya untuk selalu menghabiskan makanan yang ada dipiring mereka, apalagi kalau makanan tersebut memang yang diambil dari wadahnya, karena “mata tidak lebih besar dari perut “bukan?
Hasta La Vista
setuju Bu, ambilah secukupnya, semampunya kita sanggup untuk menghabiskan, jangan disisakan, karena katanya, tiap butiran nasi/suapan makanan, ada berkah dan doa besertanya
hai.., thanks for stepping by, anak muda jaman sekarang suka kurang peka ya bu……
Saya kalo makan habis lho Tante…kalo gak habis nanti Dewi Sri nangis
lama ga jalan-jalan.. pa kabar tan.. heheh
btw, saya juga igid2en kalo liat org makannya ga abis.. karena saya sedang program penggemukan badan.. hahahahah
hai Diaz, apa kabar juga? hehehe
gaya yang tidak manusiawi itu seolah berkembang tanpa terkendali.
Siapa yang bisa kita salahkan?
Orang tuanya kah, yang merupakan guru awal mereka? Rasanya tidak ya, Tante.
Orang tua mana yang mengajarkan hal buruk ke anaknya.
Gurunya di sekolah? Rasanya juga tidak. Atau jaman yang berubah dibanding jaman kita sekolah dulu membuat degradasi moral begitu cepatnya, mengikis nilai-nilai keluhuran budi pekerti dan penghargaan akan kerunia Tuhan.
Lingkungan? Lingkungan yang mana yaa?
Atau kita yang memang tidak tau perkembangan sehingga menilai perubahan tatanan itu tetap sebagai gegar budaya yang kurang bisa diterima hati nurani kita.
Ah, saya pusing sebagai produk lama menyaksikan perubahan yang jauh dari norma-norma ‘lama’, tapi menurut saya seharusnya tetap dijaga kelanjutannya.